Avara sudah di kamarnya, lebih awal dari biasanya. Ia sudah mendekatkan diri dengan peti-nya. Ia sudah membuka petinya, menemukan lentera emas itu didalamnya. Tapi ternyata mantra itu tidak berfungsi saat matahari bersinar, jadi malam ini ia ingin mencoba petinya. Dengan mantab dia membuka peti dan berucap “flafa teateara no Avara”.
Sama seperti sebelumnya, cahaya-cahaya itu dating menyelubungi Avara lalu menempatkan dirinya di tengah hutan Taedusc. Sekali lagi. Kali ini ia berharap bertemu dengan Kakek Potecci, namun ia tak mendengar suara berima kapak sang kakek. Dirinya merasa agak aneh..ia tak bisa melihat tangannya, pandangan matanya luas memandang hutan dan telinganya dapat mendengar dengan sangat jelas.
Kali ini Avara berdiri didekat sungai, bayangan yang terpantul dari air sungai itu bukan dirinya namun seekor hewan berkaki empat yang pernah ia lihat di kebun binatang. Kata sang ibu nama hewan itu adalah kancil. Avara berusaha mencari-cari piyama yg tadi ia kenakan di badan, yang ia temui adalah bundel ekor kancil dan bulu sepanjang badan.
Gawat! Avara berubah jadi kancil!
Sama seperti sebelumnya, cahaya-cahaya itu dating menyelubungi Avara lalu menempatkan dirinya di tengah hutan Taedusc. Sekali lagi. Kali ini ia berharap bertemu dengan Kakek Potecci, namun ia tak mendengar suara berima kapak sang kakek. Dirinya merasa agak aneh..ia tak bisa melihat tangannya, pandangan matanya luas memandang hutan dan telinganya dapat mendengar dengan sangat jelas.
Kali ini Avara berdiri didekat sungai, bayangan yang terpantul dari air sungai itu bukan dirinya namun seekor hewan berkaki empat yang pernah ia lihat di kebun binatang. Kata sang ibu nama hewan itu adalah kancil. Avara berusaha mencari-cari piyama yg tadi ia kenakan di badan, yang ia temui adalah bundel ekor kancil dan bulu sepanjang badan.
Gawat! Avara berubah jadi kancil!