29 November, 2009

dinding itu...

Dinding itu....

Warnanya sudah tak secerah dulu ketika aku pertama kali menyekakan cat ke bagian-bagiannya, mengubah warnanya yang gelap itu menjadi biru muda. Aku berharap dapat memandang luasnya langit dalam kamarku lewat batas-batas haluannya. Hasilnya memang tak semanis para ahli cat dimanapun, namun aku puas dengannya. Ia meneduhkan hatiku, menyambutku setiap kali aku merasa kesepian. Dia masih sama kokohnya seperti dulu. Ia juga sama dinginnya seperti pertama kali aku menyentuhnya.

Diantara haluan-haluannya aku menyelipkan segala harapku ternyata. Wajahnya sudah tak seindah dulu, aku merusaknya dengan pensil ketika emosiku meledak. Ia juga tak sepolos dulu lagi, aku sudah membuatnya makin penuh dengan barang-barang milikku. Mungkin ia merasa sakit ketika paku beton itu menusuk haluannya, mungkin ia menangis ketika aku menghilangkan bagian dirinya lalu tersapu bersama sampah.

tapi..
Dinding itu tahu apa rahasiaku, ia tahu dengan amat sangat pasti apa yang aku lakukan. Yang bahkan aib yang tak bisa aku buka kepada banyak orang. Jika saja ia adalah tukang mengadu, maka ia sudah mengaduh saja ketika upilku aku leletkan kepadanya, atau ketika kutendang dia waktu ku marah. Dinding itu begitu setia, namun begitu durhaka pula. Ia setia kepadaku, diam seribu bahasa, berjanji apa yang ia dengar tak ia katakan kepada orang lain. Namun ia sangatlah durhaka ketika janji itu lenyap ditelan tipisnya dinding itu yang hanya satu bata saja, memungkinkan orang lain mendengar apa yang aku bicarakan, jika orang itu adalah penguping sejati.

Dinding itu, masih saja tegak berdiri disana. Ia masih saja kuat tertempa suaraku yang fals ketika aku sedang menyanyi didepan komputer dan begitu ia tak geli mendengarkan aku bercengkrama bersama benda kotak yang aku sebut handphone. Aku tahu ia bisa mendengarnya, didalam dirinya terdapat lapisan-lapisan micro khusus penyimpan ingatannya tentang apa yang ia ketahui diruangan ini. Jika ia tak sanggup, ia akan merontokkan tubuhnya menjadi remah-remah lalu ingatan yang sangat tak manusiawi itu pun lenyap menjadi debu bersama sampah.

Baru ketika aku menuliskannya, hatiku ingin berterimakasih kepada dinding ini. Terimakasih telah menemaniku dengan kokohnya. Meski kadang kau tak suka jika air hujan meresap dalam tubuhmu dan melenyapkan bagian ingatanmu itu. Meski kau juga mengeluh jika aku lupa memberimu cahaya. Terimakasih tak mengeluh dengan selotip-selotip yang menempel dihaluanmu, percayalah itu tanda sayangku, aku tahu itu bagian lukamu, bagian ingatanmu yang tersayat. Terimakasih tak melunturkan gaya isengku yang membuat tato di halianmu dengan cat poster berbentuk bunga itu. Sungguh terimakasih telah ada disampingku.

Dinding itu berwarna biru penuh kelu.....

27 November, 2009

Kecewa adalah perasaan manusia

Kata yang akhir-akhir ini berkutat diantara ragaku ini. Menyeruak diantara nadi-nadi basah ini, membuat resah dan gelisah dalam setiap helaan nafas. Kata ini bebannya sangat menyesakkan jiwa. Kali ini, aku menulisnya tanpa mengetahui apa solusi yang tepat, karena aku masih mengalaminya dan belum bisa lolos dari lingkarannya.

Sakit karena rasa kecewa itu sangat menusuk-nusuk dada, sesah dan tak beruang lagi untuk sekedar menghela nafas. Terlalu perih, terlalu membuat terpuruk *cih, kadang aku juga bisa dalam situasi kelam dan lupa apa itu terang* dalam lingkarannya yang membawa kita ke rasa yang membuat kita tak bergeming. Yah, setiap kali mendapati perasaan ini dalam hati, setiap kali itu juga mulutku bisa saja terkunci dengan sangat rapatnya, rapat sekali, tangis pun tak bisa aku luapkan, senyum itu bisa hilang tak berbekas sama sekali. Jiwa ini rasanya kosong. Sesaat pula aku sadar "semua ini tak ada artinya", tiap menit aku bisa mengingat kata ini. Kata yang menguatkan aku, aku sadar jika rasa kecewa ini sama sekali tak ada untungnya dan artinya bagiku, ia tidak membimbingku dalam jalan yang bisa membuatku tenang, ia menjerumuskan aku jika aku masuk terus. Kalimat itu, hanya kalimat itu harapanku untuk lari dari kecewa.

Tapi sungguh, ini masalah perasaan. Sebuah tempat yang nalar kadang tak berguna disini, ia bisa mengamuk sekuat-kuatnya hingga kita gila jadinya. Melarikan diri dari rasa kecewa itu sulit, aku mencobanya, aku pun kembali terpuruk, hanya kalimat itu yang meyakinkan aku jika semua rasa kecewa ini akan berakhir jika aku berjuang untuk melawannya.

Kecewa ini bisa bangkit dan membesar, tergantung seberapa dalam ikatan hati kita terhadap seseorang. Kecewa dengan teman-rekan kerja-orang disekitar kita, Kecewa dengan saudara sendiri , Kecewa dengan kekasih , Kecewa dengan orang tua . Hal paling sederhana yang paling membuatku bisa terdampar diruang kecewa adalah JANJI. Lima huruf ini sama berbahayanya dengan cinta.
Aku, selalu menghormati janji seseorang, aku, selalu percaya jika janji itu adalah hutang. Salahkah?? Bukankah diagama manapun diajarkan untuk menepati janji, karena janji adalah hutang?? Salahkah jika kita memegang janji itu sebagai jaminan bahwa kita ini manusia? Mungkin saja kita sering ingkar janji-janji kecil dengan teman kita, sungguh rasanya sama nggak enaknya dengan telat ketika kita ingkar. Tapi kadang kecilnya janji dalam takaran kita sering membuat lalai dan acuh.
Tahukah jika rasanya sakit sekali ketika kita diingkari janji oleh siapapun. Janji apapun.

Salahkah jika aku...langsung memasukan orang ini dalam blacklist?? Yah, rasa kecewaku dimulai dari ingkar janji seseorang kepadaku. Apapun itu, menyakitiku, sekecil apapun itu membuatku terhempas jauh. Mungkin salahku, begitu mempercayai kata janji yang aku anggap itu hubungannya dengan hati nurani-kemanusiaan-dan tuhan, salahkah aku berfikir demikian? Tapi kadang, rasa cinta kita yang besar akan orang ini, membuat kita tak tega untuk memasukkannya dalam blacklist, meski setidaknya kita waspada dengan kata-katanya.

Sungguh, aku tak tahu bagaimana solusinya jika kecewa. Kecewa yang teramat sangat, oleh orang yang kita sayangi (yang kita sayangi nggak harus identik dengan pacarkan), kecewa yang menusuk hati. Aku hanya diam saja, seolah berada salam lingkaran setan. Semakin kita memikirkannya semakin kita hanyut, semakin kita ingin lepas semakin kita diingatkan akan kejadian itu. Terlalu perih untukku, aku tak mengatasnamakan wanita saja, aku tahu pria juga bisa mengalami titik ini.

Adakah ruang yang cukup untuk menampung rasa kecewa ini??? Dihati kita?? Dan kita dapat bangkit dari perasaan kecewa yang merugikan ini?? Yang sama sekali tak berguna untuk dirikita, yang tak ada artinya ini. Hingga kita bisa menumpahkan tangis kita, menguapkan rasa dengki yang perlahan tumbuh dibalik rasa kecewa ini. Kecewa ini sungguh racun yang sangat berbahaya, ia bisa menumbuhkan racun-racun lainnya. Marah, benci, dengki, iri, sedih, trauma, tertekan dan lainnya yang selalu saja ikut tumbuh diantara kuatnya kekecewaan kita. Selalu saja...
Ah, aku tak bisa menemukan kata lagi yang bisa mengungkapkan betapa kecewa itu menyakitkan, betapa merasakannya adalah penderitaan. Meski aku tahu disetiap kejadian selalu ada hikmahnya. Tapi tetap saja sulit untuk lepas. Sulit.

Ah, apa aku yang terlalu picik hingga berfikir jika setiap manusia itu selalu mengingat tuhan??? Selalu takut akan kesalahannya yang dilihat tuhan..

riuusa

24 November, 2009

Kisah mereka diantara dilema hati

Cerita mengenai cinta| Kisah mereka diantara dilema hati
Mungkin suatu saat aku akan mengalaminya. Mengalami saat seperti ini. Namun aku berharap jika ini pun terjadi maka aku akan mengingat postingan ini.

Lebih tepatnya bukan mengenai diriku, dan aku belum meminta ijin untuk mempublikasikannya. Cerita ini lebih mengusik pikiranku dan mengganggu kepalaku kemaren. Ketika seorang teman yang lama tak menghubungiku tiba-tiba mengirimkan pesan padaku, hanya SMS biasa, namun membangkitkan segala ingatanku mengenai dirinya. Yang menggangguku.

Ini mungkin tak cuma terjadi untuk wanita saja. Ini mungkin juga menghempas batin laki-laki, tapi terserahlah toh para lelaki tak bercerita kepadaku.

Antara dilema hati. Apakah itu?? Ketika perasaan yang bernama cinta itu mulai tumbuh dari bibit tertarik lalu ia berubah menjadi suka, hidupnya sang suka ini perlahan menjelma menjadi simpatik kepada satu sosok yang membuatnya tertarik itu. Awalnya itu, hingga tahu-tahu perasaan itu tumbuh semakin besar, akarnya mulai bergerilya diantara hati dan pikiran. Bibit itu pun tumbuh dengan begitu saja tanpa ia ketahui atau ia ketahui, semakin besar dan besar.

Rasa tertarik dengan lawan jenis. Ketika sebuah perasaan itu menumbuhkan bayangan egois yang selalu menutupi nalar dan keinginan kita, menjadikannya berjalan berdasarkan pada perasaan tertarik itu. Ketika akhirnya ternyata ini menggerogoti hati teman-temanku, aku hampir-hampir menyerah dengan bayangan egois itu. Mungkin aku kejam ya, apa yang aku katakan termentahkan oleh pikiran mereka yang dikontrol oleh perasaan bukan nalar. Katakanlah salah satu temanku ini tanpa ia sadari ia memberikan SEJUTA tanda bahwa ia suka kepada lawan jenisnya, meski bibirnya mengatakan "Aku nggak mau pacaran, aku mau langsung nikah". Tapi sungguh pintarnya bayangan itu dengan tanpa sengaja mengontrol dia agar menunjukkan kepada seseorang bahwa ia suka dan mau dekat dengan dia, dengan tutur katanya dengan gestur tubuhnya dengan tindak-tanduknya bahkan dengan tertawanya.

Saya menyerah dengan orang yang tak mau mengakui perasaannya sendiri. Apa susahnya mengungkapkan bahwa ia menyukai perhatian lawan jenisnya itu?? Malah memilih menutup mulut namun membuka tanda bahwa ia ingin lawan jenis itu. Itu adalah pilihannya. Namun ketika jatuh pada satu kesempatan sang lelaki lebih agresif, ia menghindar dan panik, lalu sang lelaki pun jual mahal dan ia bingung kenapa lelaki itu tak perhatian lagi. Aku bilang "Salah siapa nggak tanya kepada dia?? Saling menunggu itu merugikan kedua pihak." aku tak tahu harus menjawab apa, aku tidak mengatakan bahwa dia harus 'nembak'.

Dilema itu ia bentuk sendiri, dengan keputusannya yang dilandasi pemikiran dari perasaan itu.
Cinta atau suka, aku selalu bilang jika perasaan itu beda tipis dengan kekaguman. Yah mungkin sudah adat jika kita perempuan wajib menunggu reaksi dari lelaki, tapi kadang lelaki pun menunggu reaksi kita. Jujur akan perasaan kita sendiri itu penting, jika suka katakan suka jika benci katakan benci. Kalau kita diam saja, sama saja membohongi perasaan kita, jangan salahkan jika tiba-tiba orang yang memberikan perhatian kepada kamu tadi nikah dengan orang lain, atau ketika kamu tahu dia ternyata hanya menganggap kamu adik ketika ia telah memiliki seorang kekasih dan perasaanmu sudah sangat amat sangat dalam kepada orang itu.

Ini bukan masalah kamu 'nembak' dia untuk dijadikan pacar, hanya mengungkapkan perasaan dan pertanyaan mengenai perhatian dia saja. Kalo di jadikan pacar ya syukur, kalo toh mau nya ta'aruf ya setidaknya saling tahu kalian nggak bertepuk sebelah kaki. Aku benar2 tidak menyarankan 'nembak' karena aku hanya menyarankan mengungkapkan perasaan dengan nalar berjalan 250% bukan perasaan yang mengontrol tubuh dan pikiranmu.

bait yang menguap bersama senyummu

Ketika satu hari cerita cintamu telah ada diujungnya. Ketika segala rasa itu melebur jadi satu dalam bait yang telah ia lantunkan dan rindumu menguap bersama dengan senyumnya. Mungkin hari ini kau akan bersyukur telah bertemu dengan kekasih hati,telah menemukannya diantara remah-remah duniawi yang sering merapalkan mantra sakit hatinya. Dan diujung senyumnya adalah harapanmu untuk terus menatap dunia ini. Ketika semua cerita ini adalah awal dari cerita lain yang masih akan memenuhi hidupmu maka akan kau simpan dengan apiknya tiap potongan kenangan ini diantara sudut hatimu dan jiwamu.

Sungguh ketika segala rasa syukur itu terus saja menyeruak dalam hati, kau akan mengingat anugerah telah menemukan sosok dia dalam hidupmu.
Rapikan setiap potongan kenangan itu agar kau bisa merawat perasaan ini selalu dan tak akan berubah untuk dirinya saja.

23 November, 2009

pertanyaan yang....

Kemaren, aku tertegun saja ketika sahabatku menyatakan suatu pernyataan kepadaku.
"Aku merasa benar tak mengenalmu. Kau banyak bercerita, namun kamu tak pernah membicarakan dirimu sendiri, tentang rahasiamu, tentang hidupmu, tentang dukamu, tentang kesulitanmu."
Begitukah?
Sebegitu aku tak pernah bisa mengungkapkan apapun kepada sahabatku itu??
Benarkah???

Aku nggak tahu. Dan hanya bisa diam saja.
Yah, mungkin di blog yang acakadul ini, sebagian mengenai hidupku aku bagi. Tapi memang aku akui, tidak semuanya.

Sejujurnya, aku paling benci berterus terang mengenai masalah pribadi yang bener2 menekan dalam hidup. Kalaupun aku mengungkapkannya, itu ketika masalahnya sudah 60%-80% terselesaikan. Aku sangat menghindari adegan menangis didepan sahabat2ku sendiri. Hukakakaka...

Bukan ingin menunjukkan sisi kuat didepan merekan. Hanya saja tidak menyukai adegan menangisku *pasti jelek mukaku*. Meski kata teman, menangis itu harus dilakukan jika memang tak sanggup lagi menahan. Kuat dan lemah kan bukan diukur dari seberapa sering kita menangis??
-----

The next. Dia bertanya lagi: "Kenapa sih kamu ini bisa kuat menahan rasa SAKIT HATI ketika ada seseorang mengata-ngatai kamu???"

Mampus, aku nggak bisa njawaaaaaaaaaaaaab!!!! Untuk kesekian kali, aku yang sangat cerewet ini bisa diem. Dan Sumpah demi tuhan aku nggak tahu apa jawabannya. Dan hanya bisa mengira2 saja.

"Mungkin karena aku menganggap tiap orang itu punya hak masing2 untuk menilai seeorang sesuai dengan mindset dia. Mungkin karena aku juga mencoba selalu berfikir jika ucapan kita adalah suatu hal yang akan dipertanggungjawabkan, kalo toh itu menyakitiku ternyata ya biarkan saja itu menyakiti asal kita tak membalasnya."

Dia bertanya lagi: "Tapi wis, kamu itu kok kayaknya nggak pernah sakit hati. Aku ini nggak bisa wis nggak sakit hati klo dikata-katain"
Dalam pikiranku itu berarti, Aku nggak pernah melihatmu bersedih untuk segala hal yang aku anggap itu menyakiti perasaanmu.

gubraaaaaaaaaaak...denger jawaban sok bijakku
"Sakit hati ketika mendengar sesuatu yang menyakitkan hati itu lumrah dan manusiawi, okelah 10-20menit kamu sakit hati sih ga papa, tapi jangan terus-terusan, karena itu nggak baik buat kontrol jiwa kita. Mikir yang baik2 aja. Mungkin orang yang mengatai kita itu sangat NgeFans sama kita, atau bentuk iri berlebih karena ia tak mampu seperti kita."

uoooooooooo.......salah ga ya???