time-go-move-away

11:05 AM

Hari ini, tepat tanggal 31 Desember 2009. Adalah waktu pergantian tahun menuju tahun 2010. Indonesia dikejutkan dengan wafatnya presiden ke4, pak gusdur. Dan saya dikejutkan dengan wafatnya teman SMA saya. Bukan hal yang mengejutkan mungkin yang namanya kematian itu. Tapi bagi yang ditinggalkan itu adalah goresan luka yang tiada hilang.

Jam 6sore, mendapat kabar berita itu. Dan masih saja kami berfikir dia bercanda memberikan berita ini. Yah, namanya juga orang melek internet, saya langsung mencari penelusuran lewat internet. Tidak di dapat berita satupun. Yang aku dapatkan adalah fakta ia masih sempat update Facebook dan Twitter 22jam sebelum berita itu sampai di saya. Jadi pikiran positif saya, ini adalah lelucon paling tidak lucu.


Kabar selanjutnya adalah memang benar teman saya ini meninggal dunia sore ini. Saya berterimakasih kepada internet, berita ini lekas sampai kepada teman-teman yang lainnya berkat internet. Spekulasi..spekulasi selalu muncul, ada yang menyebutkan beliau meninggal karena masuk angin kasep, memang tidak sedikit kasus seperti itu. Meski kenyataannya adalah seperti hypotermia karena AC. Entah ini benar atau tidak ia terkena hypotermia karena menyalakan AC di kamar saat udara dingin dan tanpa logistik memadahi di perut. Innalillahi wa inailaihi roji'un.....

Fakta ini membuat saya semakin aware dengan kondisi badan. Apa mungkin karena ia sakit masuk angin atau karena kebiasaan menggunakan AC. Terkadang tubuh kita tak sekuat ini, dan lebih meningkatkan kewaspadaan kepada tiap keluarga, anaknya harus benar-benar diawasi. Mungkin sisi negatif dari ini adalah shock yang sangat dasyat. Namun sisi positifnya adalah sikap waspada dan saling peduli. Yah, lingkup privasi ruangan memang tak terelakkan, namun perhatian orang tua terhadap hidup anak ini lebih penting. Saya mungkin akan belajar bangun pagi, dan mungkin orang tua saya akan sangat rajin menanyakan apa saya sudah makan atau saya sudah bangun tidur dari balik pintu kamar. Meski kata-katanya cukup tidak enak didengar.

Kehilangan, tentu saja....kami kehilangan teman kami yang suka tersenyum itu, ramah dan suka bercanda. Tapi nasib dia bukan untuk disesali dan disayangkan saja. Namun sangat pantas jika kita mengambil hikmah dari setiap peristiwa, termasuk peristiwa teman saya.

Sebagai anak, saya mungkin termasuk orang yang paling malas mendengarkan suara bapak dan ibu yang rajin mengomeli saya jika telat makan. Atau ayah saya yang rajin menggedor pintu kamar saat saya mengadakan aksi malas bangun dan menanyakan "Nduk...mati po koe?" yang menarik titik sadar saya untuk segera bangun. Tapi, semua itu untuk segala kebaikan.

Teman... jika memang kau sangat disayang oleh sang pencipta, maka aku sangat bersyukur jika kau ada disisinya dalam keadaan tenang. Segala kenangan itu selalu ada dalam ingatan teman-temanmu. Dan terimakasih telah mengajarkan saya untuk lebih perhatian terhadap kondisi tubuh sendiri, dan peduli dengan lingkungan keluarga.


Rest in Peace, Dhyaksa Sepastika a.k.a Acha 26 October 1987-31 Desember 2009


nb: tidak sopan ya saya ini T_T

You Might Also Like

0 comments

Powered by Blogger.

Press