Setiap malam, Avara selalu merasa takut sendirian di kamarnya, orang tuanya mulai membiasakan gadis itu untuk tidur dikamarnya sendiri. Setiap malam Avara merasa sendirian, terkadang malah ia selalu merasa kamarnya yang remang-remang itu menakutkan dan diisi oleh monster-monster yang selalu mengintip diantara gelapnya malam.
Ia pun hanya bisa duduk di ranjang sambil memasang pandangan waspada sembari memeluk tubuhnya. Menatap berkeliling, memeriksa apakah ada benda asing yang muncul di kamarnya. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah kotak di samping ranjangnya, berada diatas meja. Kotak itu adalah sebuah peti buatan kedua orang tuanya. Tadi pagi baru saja dibuat. Kotaknya cukup besar, sebesar kotak mie terbuat dari kayu.
Ayah yang membuatnya, menyatukan satu persatu potongan kayunya. Kata Ayah Avara, kotak ini bisa menyimpan banyak hal yang ingin disimpan, mainan, buku, manik-manik, pita-pita ataupun boneka. Ayah Avara juga berkata jika peti ini bisa menemani Avara saat malam-malam sepi sebelum tidur. Ibu Avara yang menghias peti itu dengan manik-manik disudutnya, mengecat warna coklat mengkilat. Pada tutup peti itu bertuliskan “Peti Avara” terbuat dari hiasan manik-manik bekas mainan Avara yang rusak. Ibu berkata jika semua hal yang ingin disimpan bisa disimpan meski tidak berupa bentuk aslinya.
Kedua orang tuanya membuat Peti Avara setelah malam sebelumnya gadis itu menangis tak hentinya dan lari ke kamar orang tuanya. Setelah Peti Avara jadi, mereka pun berpesan “Jika kamu merasa takut, bukalah peti ini dan ucapkan mantra rahasia –flafa teateara no avara-“
Ia pun hanya bisa duduk di ranjang sambil memasang pandangan waspada sembari memeluk tubuhnya. Menatap berkeliling, memeriksa apakah ada benda asing yang muncul di kamarnya. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah kotak di samping ranjangnya, berada diatas meja. Kotak itu adalah sebuah peti buatan kedua orang tuanya. Tadi pagi baru saja dibuat. Kotaknya cukup besar, sebesar kotak mie terbuat dari kayu.
Ayah yang membuatnya, menyatukan satu persatu potongan kayunya. Kata Ayah Avara, kotak ini bisa menyimpan banyak hal yang ingin disimpan, mainan, buku, manik-manik, pita-pita ataupun boneka. Ayah Avara juga berkata jika peti ini bisa menemani Avara saat malam-malam sepi sebelum tidur. Ibu Avara yang menghias peti itu dengan manik-manik disudutnya, mengecat warna coklat mengkilat. Pada tutup peti itu bertuliskan “Peti Avara” terbuat dari hiasan manik-manik bekas mainan Avara yang rusak. Ibu berkata jika semua hal yang ingin disimpan bisa disimpan meski tidak berupa bentuk aslinya.
Kedua orang tuanya membuat Peti Avara setelah malam sebelumnya gadis itu menangis tak hentinya dan lari ke kamar orang tuanya. Setelah Peti Avara jadi, mereka pun berpesan “Jika kamu merasa takut, bukalah peti ini dan ucapkan mantra rahasia –flafa teateara no avara-“




