Acara Pertukangan

12:20 AM

Minggu 31 Januari 2010

Acara Pertukangan

Hari ini, seingatku aku bangun dengan malas. Sebenarnya aku tahu list yang akan aku lakukan. Huft. Bertukang. Kali ini mencoba memperbaiki bak mandi yang rusak, lebih tepatnya bocor karena...ah aku juga tak tahu kenapa. Jumpalitan di ruang sempit itu, dan badanku kena semen putih semuanya, fiuuh...sudah mirip kuli bangunan.


Dalam proses penambalan tadi aku harus mempertahankan posisi kepala di bawah, sungguh menyiksa diri. Yah, akibatnya memang sangat fatal, yakni pusing dan mual. Nah ada kejadian bodoh yang telah aku lakukan sendiri, susah payah aku buat tadi lapisan semen putihnya lalu dengan polosnya aku menyalakan kran *langsung dari sanyo tanpa memperhatikan apakah kran dibuka atau tidak*. Hasilnya, yah tentu saja hanyut terbawa air semua lapisan semen putih yang masih basah itu.

Kembali membuat lapisan semen putih lagi *demi bisa mandi dengan baik dan benar*. Capek juga

Ah, Acara pertukangan di rumahku selalu melibatkan kaum wanita. Sangat jarang sekali kaum lelaki turun tangan, entah mengapa, hanya saat membangun rumah saja mereka turun. Aku jadi ingat, kalo jadi perempuan di keluargaku harus bisa mengurus rumah (masak, nyuci, ngepel) dan sekaligus harus bisa nukang. Sungguh realita yang benar-benar aku lihat, ibuku, kakak ponakanku, budheku, semuanya bisa nukang lho...wakakakakakaa.

Bukan alasan yang buruk memang jika seorang perempuan bisa mengerjakan pekerjaan yang harusnya dilakukan lelaki. Aku selalu dihadapkan dalam kondisi, jika pekerjaan pria ini tak segera kau tangani maka tak ada perubahan. yah, sejak kecil aku sudah diajari untuk bisa berberes sendiri, nukang, meski sebal jika harus menebang cabang pohon atau memanjat pohon kelapa.

Bisa melakukan hal-hal seperti itu bukanlah sebuah dosa, hanya sebuah kebutuhan. Terkadang segala sesuatu itu tak bisa menanti bala bantuan datang. Ah, untungnya saya masih dianggap perempuan oleh teman-teman saya. wakakaakakaka

You Might Also Like

4 comments

Powered by Blogger.

Press